Kearifan Lokal Sebagai Media Pendidikan untuk Nilai Anti korupsi untuk usia dini
Bangsa
Indonesia merasa prihatin atas munculnya fenomena korupsi,jumlah kasus dan
tersangka makin bertambah dari tahun ke tahun. Korupsi sebagai perbuatan yang
melawan hukum yang sudah merugikan banyak orang dan merugikan negara,tersangka
korupsi sendiri kebanyakan dari lembaga-lembaga negara,bentuk-bentuk korupsi
sendiri di antaranya yaitu untuk penggelapan dana jabatan,memperkaya diri dan
pemerasan jabatan. Maka dari itu kita
harus menanamkan sikap nilai nilai anti korupsi.
Sejak
dini bisa melalui media permainan tradisional dan lain-lain. Dimasa usia dini
inilah sangat tepat untuk penanaman nilai karakter seseorang agar masa depannya
tidak terjerumus ke masalah hukum. Dibalik permainan tradisional yang sering
kita mainkan pada zaman dahulu memiliki nilai nilai karakter Pendidikan yang
tanpa kita sadari bahwa kita bermain sambil belajar. Perlu kita ketahui bahwa
orang yang melakukan korupsi ternyata memiliki Pendidikan yang tinggi.contohnya
orang yang mempunyai jabatan kekuasaan,mereka melakukan tindakan kecurangan
tersebut demi mementingkan diri sendiri. Mereka para koruptor bisa dibilang
pemberani karena mereka tidak takut pada hukum dan sanksi-sanksi yang akan
didapatkan pada dirinya sendiri. Faktor penyebab tindakan korupsi bersifat
internal dan eksternal. Faktor internal bisa meliputi sifat tamak yang ada
dalam diri manusia, moral yang tidak kuat menahan godaan didepan mata, dan
penghasilan yang kurang memadai. Sedangkan penyebab eksternal adalah situasi
lingkungan atau adanya peluang, dan kesempatan yang sangat mendukung.
Korupsi merupakan penyelewengan
terhadap wewenang publik yang timbul karena kurangnya control terhadap
kekuasaan yang dimiliki dan terbukanya kesempatan untuk menyelewengkan
kekuasaan tersebut. Beberapa factor penyebab terjadinya korpsi, antara lain :
a. Penegakan
hokum tidak konsisten, hanya sebagai make-up politik, sifatnya sementara selalu
berubah setiap berganti pemerintahan.
b. Penyalahgunaan
kekuasaan/wewenang.
c. Langkanya
lingkungan yang anti korup.
d. Rendahnya
pendapat penyelenggara negara. Pendapatan yang diperolehharus memenuhi
kebutuhan penyelenggara negara.
e. Kemiskinan,Keserakahan.
f.
Budaya memberi upeti,imbalan jasa dan
hadiah.
g. Konsekuensi
bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi, saat ditangkap dapat
menyuap penegak hukum sehingga dibebaskan atau setidaknya diringankan
hukumannya.
h. Budaya
serba membolehkan, tidak mau tahu menganggap biasa apabila ada korupsi,karena
sering terjadi. Tidak peduli orang lain,asal kepentingan sendiri.
i.
Gagalnya Pendidikan agama dan etika.a
Dengan adanya Pendidikan antikorupsi
diharapkan kelak ketika kita menjalankan suatu tugas pemerintahan negara tidak
ada lagi kasus korupsi. Berkaitan dengan hal ini tujuan pembelajaran sudah
seharusnya dikembangkan berdasarkan tiga ranah, yaitu tujuan kognitif,afektif,
dan psikomotor. Selain itu, pemilihan metode pembelajaran seharusnya juga
mempertimbangkan pengembangan kemampuan
anak dan didasarkan pada hasil kajian anatara perilaku yang diharapkan
dengan cara yang akan ditempuh dalam proses pembelajaran.
Manfaat
bermain bagi anak adalah anak belajar untuk berinteraksi dengan lingkungan dan
orang yang ada di sekitarnya maka kemampuan sosialisasi anak pun jadi
berkembang.
Setiap permainan memiliki tujuan pembelajaran niai
anti korupsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sebelum permainan dimulai
siswa diberi pemahaman nilai apa yang diajarkan dalam setiap permainan yang
akan dimainkan. Seorang anak diberi penekanan bahwa bkan mengenai kalah dan
menang tetapi mengenai bagaimana anak mampu mempertahankan nilai yang berusaha
diajarkan dalam proses bermain.
Contoh
dari permainan tradisional itu sendiri salah satunya adalah lompat tali, di
dalam permainan tersebut kita di ajarkan untuk sportif dalam bermain karena di
dalam permainana tersebut dimainkan lebih dari dua orang.Tahapan untuk bermain
yaitu yang pertama anak harus melakukan hompipa untuk menentukan siapa yang
akan memegang tali dan siapa yang akan
melakukan lompatan pertama,dari sini kita mendapatkan poin bahwa adanya sikap
keadilan. Selanjutnya dilakukan dengan tahapan melakukan lompatan yang akan
dimulai dari tingkatan yang paling rendah ke yang paling tinggi. Di dalam
permainan tersebut anak akan belajar berinteraksi dengan lingkungan dan orang
yang ada di sekitarnya. Dari interaksi dengan lingkungan dan orang disekitarnya maka kemampuan sosialisasi anak
pun menjadi berkembang. Adapun manfaat dari permainan tradisional ini adalah :
1.Memberikan kegembiraan
pada anak
2.Melatih semangat kerja
keras anak untuk memenangkan permainan dengan melompati berbagai tahap
ketinggian tali.
3.Melatih motorik kasar
anak yang sangat bermanfaat untuk membentuk otot yang padat,fisik yang kuat dan
sehat, serta mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Permainan yang
dimainkan dengan lompatan-lompatan ini
juga bermanfaat menghindarkan anak dari resiko mengalami obesitas.
4.Melatih kecermatan anak
untuk dapat meompat tali (terutama pada posisi tinggi).
5.Melatih keberanian anak
dan mengasah kemampuannya untuk mengambil keputusan, karena untuk melompati
tali dengan tinggian tertentu membutuhkan keberanian untuk melakukannya.
6.Menciptakan emosi
positif bagi anak. Sebab ketika bermainlompat tali, anak bergerak, berteriak
dan tertawa. Gerakan tawa dan teriakan ini sangat bermanfaat untuk membuat
emosi anak menjadi positif.
7.Menjadi media bagi anak
untuk bersosialisasi. Dari sosialisasi melalui permainan ini, anak belajar
bersabar,menaati peraturan, berempati dan menempatkan diri dengan baik diantara
teman-temannya.
8.Membangun sportivitas
anak. Pembelajaran mengenai sportivitas ini diperoleh ketika harusmenggantikan
posisi pemegang tali ketika ia gagal
melompat tali.
Komentar
Posting Komentar