Pembelajaran "Hakikat Wacana"
Hakikat
Wacana
Dalam proses komunikasi dapat terjadi apabila ada
proses interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif
komunikasi. Medium dalam proses komunikasi sebagai saluran dalam penyampaian
suatu pesan. Pada kedudukan wacana dalam bahasa terdapat urutan tingkat dari
satuan yang terkecil membentuk satuan yang lebih besar, sebagai contoh : fonem
membentuk morfem, lalu morfem membentuk kata, kemudian kata akan membentuk
frasa, selanjutnya frasa akan membentuk klausa, setelah itu klausa akan
membentuk kalimat dan terakhir kalimat akan membentuk wacana.
Menurut Tarigan, 1987:27. Wacana merupakan satuan
bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa
dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan serta mempunyai awal dan
akhir yang nyata, disampaikannya secara lisan atau tulisan. Lalu menurut
Kridalaksana, 1982-72. Wacana
adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki tata bahasa merupakan satuan tata bahasa tertinggi atau terbesar. Wacana
itu direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri
ensiklopedia, dsb), paragraf, atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Dan menurut Moeliono & Dardjowidjojo, 1988:334.
Wacana merupakan rentetan
kalimat yang berkaitan serta menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi
yang lain untuk membentuk suatu kesatuan.
Stubbs (dalam Oetomo, 1993: 4) menyatakan bahwa
analisis wacana merujuk pada upaya mengkaji pengaturan bahasa di atas kalimat
atau klausa. Kartomihardjo
(1993 : 21) menyatakan bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang
dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada
kalimat dan lazim disebut wacana. Jadi analisis wacana merupakan suatu kajian
unit bahasa yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara
alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun dalam bentuk lisan terhadap para
penggunanya.
Adapun
tujuan-tujuan dari wacana, yaitu :
1. Menyampaikan
informasi, adanya keinginan untuk dapat memberi informasi kepada orang lain
atau juga memperoleh informasi dari orang lain mengenai suatu hal.
2. Menggugah
perasaan, adanya keinginan untuk dapat meyakinkan seseorang mengenai suatu
kebenaran atau suatu hal, dan mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.
3. Gabungan
keduanya, adanya keinginan untuk dapat menceritakan kembali kepada orang lain
kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi baik yang dialami sendiri maupun
yang didengarkannya dari orang lain.
Ciri-ciri
dari wacana yaitu :
- satuan gramatikal
- untaian kalimat-kalimat
- memiliki hubungan proposisi
- memiliki hubungan keherensi
- memiliki hubungan kohesi
- rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
- mediumnya bisa lisan bisa tulisan dan
- sesuai dengan konteks atau kontekstual.
Perbedaan
Wacana dan Teks
Perhatikan contoh berikut.
- Dilarang
berjualan di sini (di papan pengumuman)
- Wah, indah
benar lukisan yang dibuat olehnya (dalam dialog)
- Awas ada
anjing galak (tulisan di atas pintu pagar)
- Bunga itu
kukirimkan padanya (dalam sebuah novel)
Di sini tampak bahwa semuanya (a,b,c, dan d) bisa disebut
teks, tetapi hanya (a) dan (c) saja yang bisa disebut wacana, karena (b) dan
(d) tidak menunjukkan satuan makna yang jelas. Bila diperhatikan, “nya” dalam
kalimat (b) dan “ku” dan “nya” dalam kalimat (d) tidak memberi makna sepenuhnya.
Menurut Van Dijk (1997:3) mengemukakan bahwa wacana
adalah suatu bangun teoretis yang abstrak sehingga belum dapat dilihat sebagai
perwujudan fisik bahasa. Jadi, dapat dikatakan bahwa wacana berada pada tingkat
langue, sedangkan teks adalah realisasi atau perwujudan dari wacana.
Jadi, teks termasuk dalam tataran parole. Perbedaan kedua istilah itu
sebenarnya terletak pada pemakaiannya.
Jenis jenis wacana berdasarkan bentuknya
1. Wacana
deskripsi, wacana deskripsi adalah wacana yang menggambarkan sesuatu dengan
jelas dan terperinci dan bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap
sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat,
mendengar, membaca atau merasakan hal yang dideskripsikan.
2. Wacana
eksposisi, merupakan jenis wacana untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima
(pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya, pada wacana ini dignakan untuk
menjawab pertanyaan “bagaimana” karena menerangkan proses atau prosedur suatu
aktivitas.
3. Wacana
argumentasi, merupakan jenis wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau
pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik berdasarkan
pertimbangan logis maupun emosional.
4. Wacana
persuasi, merupakan wacana yang bertujuan untuk mempengaruhi mitra tutur untuk
melakukan Tindakan sesuai yang diharapkan penuturnya.
5. Wacana
narasi, merupakan jenis wacana yang berisi berita, pada wacana ini menceritakan
sebuah kejadian secara berurutan berdasarkan waktu kejadian.
Komentar
Posting Komentar