JURNAL FEMINISME "CATATAN SEORANG PELACUR" KARYA PUTU ARYA TIRTAWIRYA

 

Analisis Cerpen “Catatan Seorang Pelacur” Karya Putu Arya Tirtawirya

Dengan Kajian Feminisme

Analisis ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi

Dosen : Ira Rahayu, S.Pd., M.Pd

 

 

 

 

Ahmad Reyhan Nashih

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Swadaya Gunung Jati

Cirebon 2020

 

ABSTRAK

Ditinjau dari segi penikmatnya, karya sastra merupakan bayang-bayang realitas yang dapat menghadirkan gambaran dan refleksi berbagai permasalahan dalam kehidupan. Keistimewaan sebuah karya sastra yakni terdapat berbagai sifat yang dapat dikaji dengan sebuah teori, salah satunya yaitu teori feminisme. Teori feminisme, yang muncul dari gerakan feminis yang bertujuan untuk memahami sifat ketidaksetaraan gender dengan memeriksa peran sosial dan pengalaman hidup perempuan, ini telah mengembangkan teori-teori dalam berbagai disiplin ilmu untuk menanggapi isu-isu tentang gender.

Kata Kunci : Kajian Feminisme, Feminisme

 

 

 

 

 


A.    Pendahuluan


Teori feminisme tak hanya menawarkan pengetahuan sejarah yang timpang tersebut, namun juga mempromosikan  kesetaraan nilai dengan cara mengangkat perspektif perempuan dari posisinya yang minor. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa feminisme memperjuangkan nilai-nilai tentang keadilan sosial, kesetaraan atau kesamaan martabat antara laki-laki dan perempuan.  Perjuangan feminisme tersebut dilakukan dengan berbagai cara, salah satnya lewat karya sastra.

Dalam karya sastra membicarakan feminisme berarti membicarakan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam perspektif gender.      Dalam cerpen “catatan seorang pelacur” tergambar dengan jelas bagaimana kehidupan seorang pelacur bernama Neng Sum yang terasing dari kehidupan yang baik-baik. Dalam cerpen tersebut Neng Sum menggambarkan bahwa wanita sebenarnya hanya objek seks semata laki-laki.

Menurut KBBI, pelacur adalah perempuan yang melacur atau wanita tunasusila atau sundal. Maka, judul cerpen “Catatan Seorang Pelacur” karya Putu Arya Tirtawirya ini dapat diartikan sebagai sebuah catatan yang ditulis oleh seorang pelacur.

B.     Metode

Feminisme

Feminisme merupakan kajian sosial yang melibatkan kelompok-kelompok perempuan yang tertindas, utamanya tertindas oleh budaya partiarkhi. Feminisme berupa gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Berupa gerakan emansipasi perempuan, yaitu proses pelepasan diri dan kedudukan sosial ekonomi yang rendah, yang mengekang untuk maju.

Feminisme bukan merupakan upaya pemberontakan terhadap laki-laki, bukan upaya melawan pranata sosial, budaya seperti perkawinan, rumah tangga, maupun bidang public. Kaum perempuan pada intinya tidak mau dinomor duakan, atau tidak mau dimarginalkan.

Feminisme lahir  dengan tujuan mencari keseimbangan antara laki-laki dengan perempuan. Feminisme merupakan Gerakan perempuan untuk menolak sesuatu yang dimarginalisasikan, direndahkan, dinomorduakan, dan disubordinasikan oleh kebudayaan, sosial, baik dalam bidang pubik maupun domestik.

C.    Pembahasan

Bentuk feminisme dalam tokoh Neng Sum

Feminisme khususnya dengan segala permasalahan mengenai wanita, pada umumnya dikaitkan dengan emansipasi. Kaum wanita menuntut persamaan hak dengan laki- laki, seperti halnya pekerjaan wanita yang selalu dikaitkan dengan memelihara, sedangkan laki-laki dikaitkan dengan bekerja. Di dalam cerpen ini Neng Sum berprofesi demikian karena kebanyakan alasan seorang perempuan menjadi pelacur adalah mereka tidak dapat bekerja pekerjaan lain yang lebih menyita usaha dan waktu, sedangkan kebutuhan ekonomi selalu menjerat mereka setiap harinya. Ini dikatakan dalam catatannya berikut ini. “Bagiku alasan terpokok adalah meringankan beban jiwaku dari dosa-dosa yang terus menimbuni diriku yang tak terelakkan oleh ketidakmampuanku kerja lain selain terlentang menampung uang.”  Sebenarnya, pekerjaan yang layak dilakukan oleh seorang perempuan atau wanita seperti  Neng Sum tidak hanya dalam batasan sebagai perawat, pembantu, pengasuh bahkan pelacur.

Dalam cerpen tersebut Neng Sum menggambarkan bahwa wanita sebenarnya hanya objek seks semata laki-laki.

“Mereka telah kehilangan tubuhku yang sebetulnya dapat mereka jadikan mangsa yang nikmat waktu napsunya mengubah mereka menjadi drakula atau seekor kucing kelaparan yang dimatanya aku adalah seekor tikus betina.”

Aku tidak mau seperti Aisyah yang di kamar nomor lima itu. Tanpa kapok kapoknya ia menghamburkan uang yang telah dikumpulkannya buat mengejar cinta  palsu setiap lelaki, yang padahal mereka itu cuma mengharapkan uang dan barang- barang perhiasannya untuk diludeskan di meja judi dan mabok-mabok. Cuma beberapa minggu hidup berumah tangga dan akhirnya telentang di balik pintu bernomor lima lagi.”

Hal ini dapat dilihat bahwa Neng Sum tidak ingin seperti Aisyah yang senang menghamburkan uang untk mengejar cinta palsu setiap lelaki.

“Rencanaku: Setelah aku dapat mengumpulkan uang secukupnya aku akan mengucapkan selamat tinggal pada penghidupan yang memalukan ini. Dengan uang itu nanti aku akan berusaha berdagang dan dalam pada itu untuk sementara menutup pintu  bagi cinta yang bersifat spekulasi”

Meskipun profesinya bukanlah sesuatu yang mulia, akan tetapi inilah sisi baik Neng Sum sebagai wanita. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya yang tidak ingin wanita lain karena Neng Sum mencoba membina hidupnya kembali, demi masa tuanya nanti.

Neng Sum mendapat keadilan penuh atas kebebasan dirinya ketika mencoba berhenti menjadi pelacur. Karena dia mendapatkan kebebasan dalam menentukan hidupnya karena itulah hak asasi yang dimilikinya.

D.    Kesimpulan

Penokohan perempuan seperti Neng Sum dalam  cerpen “Catatan Seorang Pelacur” ini yang dicap kotor di tengah masyarakat perlu dihormati dan dihargai. Mereka menjalani kehidupan seperti itu karena persoalan hidup yang menghimpit.



 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak Madi sang Penjual Es Tape Ketan

Manfaat pada tanaman sirih merah yang jarang diketahui

Skandal Bullying